Sabtu, 02 April 2011

Mengapa Cinta?

Dalam setiap jiwa yang hidup , pasti ada cinta. Bagaimana cinta itu tumbuh dan berkembang? Banyak jalan. Lalu, mengapa seseorang mencintai orang lain?
Adakah yang bisa menjawab?
Apa?
Sesungguhnya pertanyaan ini tidak memiliki jawaban. Dengan kata lain,
seseorang bertanya
X:  “mengapa kau mencintainya? ”
Y:  “aku tidak tahu”
x :  “ mengapa tak tahu? Kau yang mencinta mengapa kau tak tahu?”
Y :  “aku mencitai dia tanpa alasan, karena jika aku mencintai dia karena suatu hal, maka jika suatu saat sesuatu itu hilang, cintaku akan hilang bersamaan hilangnya hal itu. Namun jika aku mencintainya tanpa alasan, maka tiada pula alasan untuk lunturnya cintaku.”

akuriu

cinta monyet =D

Sangatlah lucu ketika mengingat kejadian masa lalu. Kala kita duduk di bangku SMP. Cerita persahabatan yang indah, juga mungkin ada cerita cinta (hehehee). Setiap dari kita pasti mengalami keduanya. Dulu, aku punya sahabat (sampai sekarang masih jadi sahabat donk), yang kemana-mana bareng, duduk depan belakang, ke kanting bareng, satu jajan yang lain jajan, satu ga jajan yang lain ga jajan. Hmmmm….kangen kaliaaannn……
Dulu, aku mengamati salah seorang teman (cowo’..hhe), sebut saja X, kami bareng mulai kelas 8 sampe  9. Awalnya biasa aja, tapi lama-lama kok aku merasa grogi, aku malu kalo ada dia, semakin lama aku gak berani menatapnya kecuali secara diam-dian (ceritanya curi-curi pandang gitu), dan aku deg-degan kalo deket dia. Aku juga merasa marah kalau dia dekat-dekat dengan teman cewe. Aku yang masih sangat polos pun tak menyadari apa arti semua ini. Baru berapa lama kemudian aku menyadari bahwa, mungkin aku suka dia. Hadeh..masih keciiiilllll
Dan parahnya, kayaknya si X tau kalo aku ada apa-apanya ni, terlihat dari sikapnya yang agak aneh. Haduh..bodohnya aku yang gak bisa menyembunyikan perasaan. Bodoh,bodoh,bodoh…
Semakin lama kita bersama, rasa itu semakin subur terpupuk oleh waktu (hehe). Semakin aku grogi,semakin aku dagdigdug, semakin aku berkeringat dingin. *parahh…  satu hal yang sangat menyakitkan, terjadi waktu kelas 9, aku mendapat informasi bahwa X suka sama temenku (beda kelas). Hikshikshiks………bagai tersambar petir, aku langsung badmood. Uhhh…kenapa harus dia (kupikir). Kenapa bukan aku?
Begitulah kisah cinta monyetku di SMP yang tanpa akhir yang jelas (nggantung), gak sad ending, apalagi happy ending…
akuriu

dulu atau kini

akuriu

kau datang dari masa lalu
kau membawa kenangan darinya
kau membuatku terbayang
hitam putih masa lalu

dulu
kau selalu di hati
dulu
tiada jarak yang memisahkan
tapi dulu
kau selalu menjauh
dan kini
setelah jarak tercipta jelas
akhirnya kau mendekat

namun kini
rasa itu tak lagi ada
kini
rasaku tlah dimiliki yang lain

andai kau datang lebih cepat........

Jumat, 01 April 2011

aku hari ini

Aku hari ini
Dalam  jarak ini, raut wajahmu tak begitu jelas kulihat, namun setiap langkah kakimu ke depan, serta setiap langkahku ke kedepan, membawa kita menerjang  kata ‘ jarak’. Semakin dekat, makin dekat, mendekat lagi, dan akhirnya kita berada pada garis yang sama. Entah mengapa, dari jauh aku berani memandang ke arahmu, tapi setelah jarak tak lagi ada, aku tak kuasa menolehkan kepala walau hanya sejenak. Yang ku bisa lakukan  hanya menunduk menatap kubik-kubik lantai kampus.
Teruuuss kita melangkah ke depan,,,dan setiap langkah ini mencipta kata ‘jarak’, yang sebelumnya telah kita terjang. Semakin melangkah, semakin jarak itu jelas tercipta. Hati berbisik pelan, berkata bahwa aku harus menoleh. Bisikan itu aku acuhkan saja, sementara aku terus melangkah.
            Semakin banyak langkah yang aku tapakkan, semakin panjang sela diantara kita. Bisikanpun semakin menggebu, dan akhirnya aku tak kuasa lagi mengacuhkannya. Aku menoleh tepat sebelum langkah kakinya yang terakhir membawanya menyusup kedalam kegelapan koridor.


menunggu hujan ,angin, serta Guntur lelah bermain-main


Tirai hujan mengurungkan niatku untuk pulang. Lelah yang seharian tertahan ini pun semakin menjadi. Kurasakan jari-jemariku mulai mengeriput, tanda tubuhku sudah terlalu lama merasakan hawa dingin. Sore itu, ketika seluruh mahasiswa tengah menikmati hangatnya dekapan selimut bulu mereka di rumah masing-masing, aku masih terduduk di bangku panjang depan ruang kelas, sendiri, hanya sendiri ditemani rintik hujan.
 

Cerobohnya aku, luput memeriksa bagasi motor lebih dahulu sebelum berangkat menuju tempat dimana aku terperangkap saat ini. Semakin lama, music hujan tak terdengar solo lagi, kini ia berduet dengan Guntur  yang sungguh membuat jantung hendak terlontar dari rongga mulut. Aku benar-benar ngeri dibuatnya.
Hmmmmm…..andaaaaiiii seseorang berada di sampingku saat itu, menemaniku menikmati konser alam dan menunggu hujan ,angin, serta Guntur lelah bermain-main…..indahnyaa…..